Banyak para wanita yang menginginkan penampilan terlihat sexy, sehingga mengenakan pakaian yang cenderung ketat agar dapat menunjukkan bentuk tubuhnya. Memang celana ini mudah sekali didapat dan mudah sekali di padukan dengan banyak model baju yang lain. Ini yang menjadikan celana jeans ini banyak digemari.
Tetapi apakah mereka tahu kalau mengenakan celana jeans terus menerus kurang baik untuk kesehatan terutama bagi organ intim kewanitaan.
Celana jeans ini terbuat dari bahan yang cukup tebal, apalagi yang jenis straight jeans atau celana jeans yang pas di badan. Hal ini dapat menimbulkan rasa panas di bagian organ kewanitaan dan memicu produksi keringat yang cukup banyak. Ditambah lagi sirkulasi udara di daerah kewanitaan juga terganggu akibat bahan yang tebal itu, padahal daerah tersebut memerlukan sirkulasi udara yang cukup, agar keringat cepat mengering.
Apabila hal ini terjadi terus menerus maka, daerah itu akan menjadi lembab dan mudah sekali memicu tumbuhnya jamur. Disamping itu resiko untuk terjadinya iritasi maupun infeksi juga bertambah besar.
Trus, gimana solusinya bagi penggemar celana jeans ketat/straight?
Jadi boleh aja memakai celana jeans yang ketat agak sering tetapi harus dipadu dengan pemakaian celana dalam yang terbuat dari bahan yang mudah menyerap keringat.
Bahan pakaian dalam yang mudah menyerap keringat paling baik adalah Cotton yang terbuat dari serat kapas dan bila dipakai terasa dingin di kulit. Jangan memilih pakaian dalam yang terbuat dari serat sintetis seperti polyester karena bahan ini berupa serat fiber poly yang tidak bisa menyerap kerngat dan bila dipakai terasa panas.
Jumat, 16 Desember 2011
Cara Meredakan Cemburu
Kalau tidak cemburu, maka tidak cinta namanya. Pernyataan di atas tentu saja benar, namun bukan berarti bahwa sembarang rasa cemburu dapat diterima dalam sebuah hubungan. Apalagi, bila yang dicemburui hanyalah teman biasa atau rekan kerja yang mau tidak mau harus kita temui setiap hari.
Untuk menghadapi sikap marah dan kekanakan pasangan akibat rasa cemburu bisa bermacam-macam, mulai dari mengabulkan permintaan pasangan untuk menjauhi orang yang dicemburui, hingga menganggap kecemburuan itu sebagai angin lalu saja. Tentunya kedua hal ini bukanlah penanganan yang sehat, yang satu terlalu 'memanjakan' pasangan, satunya lagi meremehkan. Lalu, bagaimana cara meredakan cemburu pasangan dengan cara yang sehat dan manjur tentunya. Berikut kita simak beberapa langkah di bawah ini.
"Percayalah padaku!"
Sebuah hubungan dibangun dan dipertahankan bukan hanya karena adanya cinta, namun juga karena kepercayaan. Jika sebuah isu tak sedap bergaung tentang Anda dengan seorang pria lain, maka ingatkan pasangan bahwa Anda ingin dipercaya dan tentunya, jadilah orang yang memang bisa dipercaya.
Terima kenyataan
Meski telah meyakinkan pasangan tentang pentingnya kepercayaan terhadap satu sama lain, namun hal itu tak berarti Anda harus mengabaikan keberadaan isu yang muncul. Hadapi kenyataan bahwa pasangan berhak untuk merasa was-was dan tidak aman karena mendengar kedekatan Anda dengan pria lain. Itu tandanya dia masih sayang pada Anda juga kan!
Jelaskan versi Anda
Anda harus meluruskan dan menjelaskan pada pasangan tentang bagaimana keadaan atau peristiwa yang sebenarnya. Apa saja yang telah terjadi antara Anda dan PIL tersebut, bagaimana sebenarnya hubungan Anda dan dia, dan sebagainya.
Dengarkan versinya
Setelah menjelaskan dengan detail tentang keadaan yang sebenarnya, maka Anda harus bersedia mendengarkan pemikirannya. Siapa tahu ternyata pasangan lebih mengenal atau tahu maksud tersembunyi dari sikap baik PIL tersebut. Siapa tahu juga PIL yang ia cemburui itu pernah menyebabkan trauma bagi pasangan karena pernah merebut pacar pertamanya dulu. Bisa jadi banyak hal yang mungkin tak Anda ketahui tentang PIL tersebut, yang lebih diketahui pasangan. Siapa tahu?![break]
Rundingkan jalan keluarnya
Setelah sesi mendengarkan masing-masing pihak selesai, maka kini saatnya bagi Anda dan pasangan untuk duduk bersama membicarakan tentang langkah apa yang harus diambil demi kenyamanan berdua.Yang pasti adalah bahwa harus ada keterbukaan antara Anda dan dia menyangkut PIL tersebut. Selain itu, Anda dan pasangan ada baiknya menyepakati peraturan hubungan bersama-sama, misalnya boleh bertemu bila memang harus (contoh untuk urusan kerja atau teman sekelas di kampus), namun tak boleh hanya berduaan saja, dan sebagainya.
Bangun kepercayaan dirinya
Setelah melewati pembicaraan yang panjang lebar dengan pasangan, Anda perlu meyakinkannya lagi bahwa dialah pria yang Anda pilih, dialah yang berharga, dan yang berhasil menambat hati Anda. Pria perlu diyakinkan. Pria perlu merasa aman, sama seperti Anda.
Libatkan dia
Dalam acara-acara tertentu yang memungkinkan Anda mengajak pasangan, maka Anda perlu melibatkan dia. Buat pasangan tahu seperti apa kehidupan dan kegiatan Anda, kenalkan juga teman-teman Anda sehingga dia tidak menjadi paranoid saat Anda menerima telepon dari pria yang lain lagi.
Alasan psikologi
Dalam kasus pria 'normal', mereka akan berhenti cemburu bila sudah ada penjelasan dan keterbukaan. Namun, dalam beberapa kasus, entah bagaimana pasangan bisa tetap merasa terancam meski telah diyakinkan berulang kali.
Jika Anda sudah mencoba berbagai cara dan dia tetap saja paranoid, maka Anda harus mencari tahu apa yang menyebabkan pasangan begitu merasa tidak aman. Bisa jadi itu karena trauma masa lalu, latar belakang psikologisnya saat ia masih kecil, hingga rasa ingin memiliki yang begitu tinggi. Apapun itu, semuanya muncul dari 1 sumber yaitu rasa tidak aman.
Untuk sebab satu ini, memang perlu ekstra waktu dan kesabaran, sebab sama seperti merombak ulang kepribadian seseorang, maka jelas ini butuh proses yang panjang, dan terkadang begitu melelahkan. Namun, yang penting adalah doa dan teladan nyata Anda sebagai pasangan. Itulah yang berteriak lebih keras daripada perkataan semanis apapun.
Untuk menghadapi sikap marah dan kekanakan pasangan akibat rasa cemburu bisa bermacam-macam, mulai dari mengabulkan permintaan pasangan untuk menjauhi orang yang dicemburui, hingga menganggap kecemburuan itu sebagai angin lalu saja. Tentunya kedua hal ini bukanlah penanganan yang sehat, yang satu terlalu 'memanjakan' pasangan, satunya lagi meremehkan. Lalu, bagaimana cara meredakan cemburu pasangan dengan cara yang sehat dan manjur tentunya. Berikut kita simak beberapa langkah di bawah ini.
"Percayalah padaku!"
Sebuah hubungan dibangun dan dipertahankan bukan hanya karena adanya cinta, namun juga karena kepercayaan. Jika sebuah isu tak sedap bergaung tentang Anda dengan seorang pria lain, maka ingatkan pasangan bahwa Anda ingin dipercaya dan tentunya, jadilah orang yang memang bisa dipercaya.
Terima kenyataan
Meski telah meyakinkan pasangan tentang pentingnya kepercayaan terhadap satu sama lain, namun hal itu tak berarti Anda harus mengabaikan keberadaan isu yang muncul. Hadapi kenyataan bahwa pasangan berhak untuk merasa was-was dan tidak aman karena mendengar kedekatan Anda dengan pria lain. Itu tandanya dia masih sayang pada Anda juga kan!
Jelaskan versi Anda
Anda harus meluruskan dan menjelaskan pada pasangan tentang bagaimana keadaan atau peristiwa yang sebenarnya. Apa saja yang telah terjadi antara Anda dan PIL tersebut, bagaimana sebenarnya hubungan Anda dan dia, dan sebagainya.
Dengarkan versinya
Setelah menjelaskan dengan detail tentang keadaan yang sebenarnya, maka Anda harus bersedia mendengarkan pemikirannya. Siapa tahu ternyata pasangan lebih mengenal atau tahu maksud tersembunyi dari sikap baik PIL tersebut. Siapa tahu juga PIL yang ia cemburui itu pernah menyebabkan trauma bagi pasangan karena pernah merebut pacar pertamanya dulu. Bisa jadi banyak hal yang mungkin tak Anda ketahui tentang PIL tersebut, yang lebih diketahui pasangan. Siapa tahu?![break]
Rundingkan jalan keluarnya
Setelah sesi mendengarkan masing-masing pihak selesai, maka kini saatnya bagi Anda dan pasangan untuk duduk bersama membicarakan tentang langkah apa yang harus diambil demi kenyamanan berdua.Yang pasti adalah bahwa harus ada keterbukaan antara Anda dan dia menyangkut PIL tersebut. Selain itu, Anda dan pasangan ada baiknya menyepakati peraturan hubungan bersama-sama, misalnya boleh bertemu bila memang harus (contoh untuk urusan kerja atau teman sekelas di kampus), namun tak boleh hanya berduaan saja, dan sebagainya.
Bangun kepercayaan dirinya
Setelah melewati pembicaraan yang panjang lebar dengan pasangan, Anda perlu meyakinkannya lagi bahwa dialah pria yang Anda pilih, dialah yang berharga, dan yang berhasil menambat hati Anda. Pria perlu diyakinkan. Pria perlu merasa aman, sama seperti Anda.
Libatkan dia
Dalam acara-acara tertentu yang memungkinkan Anda mengajak pasangan, maka Anda perlu melibatkan dia. Buat pasangan tahu seperti apa kehidupan dan kegiatan Anda, kenalkan juga teman-teman Anda sehingga dia tidak menjadi paranoid saat Anda menerima telepon dari pria yang lain lagi.
Alasan psikologi
Dalam kasus pria 'normal', mereka akan berhenti cemburu bila sudah ada penjelasan dan keterbukaan. Namun, dalam beberapa kasus, entah bagaimana pasangan bisa tetap merasa terancam meski telah diyakinkan berulang kali.
Jika Anda sudah mencoba berbagai cara dan dia tetap saja paranoid, maka Anda harus mencari tahu apa yang menyebabkan pasangan begitu merasa tidak aman. Bisa jadi itu karena trauma masa lalu, latar belakang psikologisnya saat ia masih kecil, hingga rasa ingin memiliki yang begitu tinggi. Apapun itu, semuanya muncul dari 1 sumber yaitu rasa tidak aman.
Untuk sebab satu ini, memang perlu ekstra waktu dan kesabaran, sebab sama seperti merombak ulang kepribadian seseorang, maka jelas ini butuh proses yang panjang, dan terkadang begitu melelahkan. Namun, yang penting adalah doa dan teladan nyata Anda sebagai pasangan. Itulah yang berteriak lebih keras daripada perkataan semanis apapun.
Kisah Kasih Tulus Si Bocah Polos
Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran, namun pelajaran hidup dari mereka yang melakukannya tanpa niat memberi teladan akan sangat mengena. Pelajaran itu datang dari anak-anak yang masih polos, di antaranya sebagai berikut.
Zhang Da harus menanggung beban hidup yang berat ketika usianya masih sangat belia. Tahun 2001, ketika usianya menjelang 10 tahun, Zhang Da harus menerima kenyataan ibunya lari dari rumah. Sang ibu kabur karena tak tahan dengan kemiskinan yang mendera keluarganya. Yang lebih tragis, si ibu pergi karena merasa tak sanggup lagi mengurus suaminya yang lumpuh, tak berdaya, dan tanpa harta. Dan ia tak mau menafkahi keluarganya.
Maka Zhang Da yang tinggal berdua dengan ayahnya yang lumpuh, harus mengambil-alih semua pekerjaan keluarga. Ia harus mengurus ayahnya, mencari nafkah, mencari makanan, memasaknya, memandikan sang ayah, mencuci pakaian, mengobatinya, dan sebagainya.
Yang patut dihargai, ia tak mau putus sekolah. Setelah mengurus ayahnya, ia pergi ke sekolah berjalan kaki melewati hutan kecil dengan mengikuti jalan menuju tempatnya mencari ilmu. Selama dalam perjalanan, ia memakan apa saja yang bisa mengenyangkan perutnya, mulai dari memakan rumput, dedaunan, dan jamur-jamur untuk berhemat. Tak semua bisa jadi bahan makanannya, ia menyeleksinya berdasarkan pengalaman. Ketika satu tumbuhan merasa tak cocok dengan lidahnya, ia tinggalkan dan beralih ke tanaman berikut. Sangat beruntung karena ia tak memakan dedaunan atau jamur yang beracun.
Usai sekolah, agar dirinya bisa membeli makanan dan obat untuk sang ayah, Zhang Da bekerja sebagai tukang batu. Ia membawa keranjang di punggung dan pergi menjadi pemecah batu. Upahnya ia gunakan untuk membeli aneka kebutuhan seperti obat-obatan untuk ayahnya, bahan makanan untuk berdua, dan sejumlah buku untuk ia pejalari.
Zhang Da ternyata cerdas. Ia tahu ayahnya tak hanya membutuhkan obat yang harus diminum, tetapi diperlukan obat yang harus disuntikkan.Karena tak mampu membawa sang ayah ke dokter atau ke klinik terdekat, Zhang Da justru mempelajari bagaimana cara menyuntik. Ia beli bukunya untuk ia pelajari caranya. Setelah bisa ia membeli jarum suntik dan obatnya lalu menyuntikkannya secara rutin pada sang ayah.
Kegiatan merawat ayahnya terus dijalaninya hingga sampai lima tahun. Rupanya kegigihan Zhang Da yang tinggal di Nanjing, Provinsi Zhejiang, menarik pemerintahan setempat. Pada Januari 2006 pemerintah China menyelenggarakan penghargaan nasional pada tokoh-tokoh inspiratif nasional. Dari 10 nama pemenang, satu di antaranya terselip nama Zhang Da. Ternyata ia menjadi pemenang termuda. Acara pengukuhan dilakukan melalui siaran langsung televisi secara nasional. Zhang Da si pemenang diminta tampil ke depan panggung. Seorang pemandu acara menanyakan kenapa ia mau berkorban seperti itu padahal dirinya masih anak-anak. “Hidup harus terus berjalan. Tidak boleh menyerah, tidak boleh melakukan kejahatan. Harus menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab,” katanya.
Setelah itu suara gemuruh penonton memberinya applaus. Pembawa acara menanyainya lagi. “Zhang Da, sebut saja apa yang kamu mau, sekolah di mana, dan apa yang kamu inginkan. Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah dan mau kuliah di mana. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebutkan saja. Di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!” papar pembawa acara.
Zhang Da terdiam. Keheningan pun menunggu ucapannya. Pembawa acara harus mengingatkannya lagi. “Sebut saja!” katanya menegaskan. Zhang Da yang saat itu sudah berusaha 15 tahun pun mulai membuka mulutnya dengan bergetar. Semua hadirin di ruangan itu, dan juga jutaan orang yang menyaksikannya langsung melalui televisi, terdiam menunggu apa keinginan Zhang Da. “Saya mau mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu papa, aku bisa cari makan sendiri. Mama kembalilah!” kata Zhang Da yang disambut tetesan air mata haru para penonton.
Zhang Da tak meminta hadiah uang atau materi atas ketulusannya berbakti kepada orangtuanya. Padahal saat itu semua yang hadir bisa membantu mewujudkannya. Di mata Zhang Da, mungkin materi bisa dicari sesuai dengan kebutuhannya, tetapi seorang ibu dan kasih sayangnya, itu tak ternilai. Pelajaran moral yang tampak sederhana, tetapi amat bermakna. Setuju kan?
Zhang Da harus menanggung beban hidup yang berat ketika usianya masih sangat belia. Tahun 2001, ketika usianya menjelang 10 tahun, Zhang Da harus menerima kenyataan ibunya lari dari rumah. Sang ibu kabur karena tak tahan dengan kemiskinan yang mendera keluarganya. Yang lebih tragis, si ibu pergi karena merasa tak sanggup lagi mengurus suaminya yang lumpuh, tak berdaya, dan tanpa harta. Dan ia tak mau menafkahi keluarganya.
Maka Zhang Da yang tinggal berdua dengan ayahnya yang lumpuh, harus mengambil-alih semua pekerjaan keluarga. Ia harus mengurus ayahnya, mencari nafkah, mencari makanan, memasaknya, memandikan sang ayah, mencuci pakaian, mengobatinya, dan sebagainya.
Yang patut dihargai, ia tak mau putus sekolah. Setelah mengurus ayahnya, ia pergi ke sekolah berjalan kaki melewati hutan kecil dengan mengikuti jalan menuju tempatnya mencari ilmu. Selama dalam perjalanan, ia memakan apa saja yang bisa mengenyangkan perutnya, mulai dari memakan rumput, dedaunan, dan jamur-jamur untuk berhemat. Tak semua bisa jadi bahan makanannya, ia menyeleksinya berdasarkan pengalaman. Ketika satu tumbuhan merasa tak cocok dengan lidahnya, ia tinggalkan dan beralih ke tanaman berikut. Sangat beruntung karena ia tak memakan dedaunan atau jamur yang beracun.
Usai sekolah, agar dirinya bisa membeli makanan dan obat untuk sang ayah, Zhang Da bekerja sebagai tukang batu. Ia membawa keranjang di punggung dan pergi menjadi pemecah batu. Upahnya ia gunakan untuk membeli aneka kebutuhan seperti obat-obatan untuk ayahnya, bahan makanan untuk berdua, dan sejumlah buku untuk ia pejalari.
Zhang Da ternyata cerdas. Ia tahu ayahnya tak hanya membutuhkan obat yang harus diminum, tetapi diperlukan obat yang harus disuntikkan.Karena tak mampu membawa sang ayah ke dokter atau ke klinik terdekat, Zhang Da justru mempelajari bagaimana cara menyuntik. Ia beli bukunya untuk ia pelajari caranya. Setelah bisa ia membeli jarum suntik dan obatnya lalu menyuntikkannya secara rutin pada sang ayah.
Kegiatan merawat ayahnya terus dijalaninya hingga sampai lima tahun. Rupanya kegigihan Zhang Da yang tinggal di Nanjing, Provinsi Zhejiang, menarik pemerintahan setempat. Pada Januari 2006 pemerintah China menyelenggarakan penghargaan nasional pada tokoh-tokoh inspiratif nasional. Dari 10 nama pemenang, satu di antaranya terselip nama Zhang Da. Ternyata ia menjadi pemenang termuda. Acara pengukuhan dilakukan melalui siaran langsung televisi secara nasional. Zhang Da si pemenang diminta tampil ke depan panggung. Seorang pemandu acara menanyakan kenapa ia mau berkorban seperti itu padahal dirinya masih anak-anak. “Hidup harus terus berjalan. Tidak boleh menyerah, tidak boleh melakukan kejahatan. Harus menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab,” katanya.
Setelah itu suara gemuruh penonton memberinya applaus. Pembawa acara menanyainya lagi. “Zhang Da, sebut saja apa yang kamu mau, sekolah di mana, dan apa yang kamu inginkan. Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah dan mau kuliah di mana. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebutkan saja. Di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!” papar pembawa acara.
Zhang Da terdiam. Keheningan pun menunggu ucapannya. Pembawa acara harus mengingatkannya lagi. “Sebut saja!” katanya menegaskan. Zhang Da yang saat itu sudah berusaha 15 tahun pun mulai membuka mulutnya dengan bergetar. Semua hadirin di ruangan itu, dan juga jutaan orang yang menyaksikannya langsung melalui televisi, terdiam menunggu apa keinginan Zhang Da. “Saya mau mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu papa, aku bisa cari makan sendiri. Mama kembalilah!” kata Zhang Da yang disambut tetesan air mata haru para penonton.
Zhang Da tak meminta hadiah uang atau materi atas ketulusannya berbakti kepada orangtuanya. Padahal saat itu semua yang hadir bisa membantu mewujudkannya. Di mata Zhang Da, mungkin materi bisa dicari sesuai dengan kebutuhannya, tetapi seorang ibu dan kasih sayangnya, itu tak ternilai. Pelajaran moral yang tampak sederhana, tetapi amat bermakna. Setuju kan?
Langganan:
Postingan (Atom)