Jumat, 29 Juli 2011

Luasnya Hati

Kisah seorang pemuda yang sedang di rundung berbagai masalah,sehingga menjadikannya putus harapan. Seharian dia duduk termenung meratapi kesedihannya.Tidak jauh dari sana ada seorang tua yg diam - diam memperhatikan pemuda yang dalam kesedihan itu, maka di hampirilah pemuda itu dan berkata "Anak muda apa yg sedang kamu pikirkan sehinnga membuat kamu menjadi terbebani dan larut dalam kesedihan?"dan pemuda itu menjawab "Apa peduli dan anda tidak akan mungkin bisa merasakan apa yang saya alami saat ini...?!" dengan sabar orang tua itu berkata "nak...memang saya tidak bisa merasakan beratnya beban yang ada dalam hati dan pikiran mu, tapi aku hanya ingin mengundang mu untuk minum bersama di rumah ku...ayolah nak ikutlah dengan ku?" tanpa membantah pemuda itupun mengikuti orang tua tersebut.

Sesampainya di rumah, lalu orang tua itu membawakan secangkir kopi panas dan di berikan pada pemuda tadi "silahkan di minum kopinya nak...?!" kata orang tua itu,dan tanpa basa basi lagi pemuda itu langsung meminum nya dan setelah meminum kopi tadi pemuda itu berkata dgn emosi "cuah....pahit sekali kopi ini, apa maksud anda pak tua?!" dan orang tua itu hanya bisa tersenyum "sekarang bawa kopi pahit yang kamu minum tadi setelah itu campurlah kopi itu ke air danau yang ada di belakang rumah ku ini?!" perintah orang tua itu. semakin tidak mengerti pemuda menuruti perintah nya.

Kemudian orang tua itu berkata "sekarang kamu minum air danau yang telah kau campur kopi pahit itu", dan masih dalam pertanyaan besar, kembali pemuda itu menuruti perintah orang tua itu, "masih berasa pahitkah air yg kamu minum ?" kata orang tua itu lagi "tidak ....yg ada hanya hambar" jawab pemuda itu penuh dengan tanda tanya " apa maksud dari semua ini" kata pemuda itu lagi.dengan tersenyum mulai membrikan penjelasan:

"jika hati kita seperti cangkir maka tidak akan pernah bisa menerima kenyataan dan permasalahan hidup yg datang silih berganti,sebab seukuran cangkir menerima sesuatu itu terbatas kadang pahit dan kadang pula manis akan tetapi kalau mempunyai hati yg luas seperti hal nya danau,dia akan selalu menerima kenyataan yg terkadang pahit dan menyakitkan?."

Barulah itu pemuda sadar dan mengerti akan kekeliruan nya,atas nasehat orang tua bijak itu.

Hikmah dari cerita di atas mungkin bisa menyadarkan kita bahwa segala macam bentuk problematika harus kita terima denagn lapang dada tanpa harus menjadi beban berat yang membuat kita menjadi frustasi oleh kenyataan yang tidak kita inginkan kedatangan nya.

Sebab tidaklah mudah menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan diri, secara teori memang gampang untuk menjadikan hati yang luas yang selalu menerima apa adanya tetapi dalam praktek kehidupan sangatlah sulit.Walaupun begitu kita masih berusaha untuk belajar agar diri kita terlatih dalam menghadapi problematika kehidupan. Semoga kita di beri keluasan hati oleh Allah swt bukan hati yang sempit seperti cangkir bahkan lebih dari itu yaitu selalu berdoa yang di barengi dengan usaha.

IBU, MAAFKAN ANAKMU …

Ibunda adalah anugrah terindah milik kita. Dari rahimnyalah lahir pejuang – pejuang Islam, mujtahid – mujtahid Islam. Ibu kita mungkin tidak seperti Ibunda dari Abdullah Bin Zubair, bukan Ibunda dari Imam Syafi’I dll. Mungkin kita terlahir dari seorang Ibu yang biasa. Tapi bagaimanapun beliau tetaplah anugrah yang sangat indah milik kita. Dengan segala ketulusannya kita bisa menjadi seperti saat ini. Sungguh jasanya tak mungkin terbalaskan oleh kita.

Ibunda ...
Beliau tak pernah meminta balas jasa dari kita. Sungguh jasanya tak mungkin bisa kita sebutkan satu persatu.

Ibunda …
Pernahkah kita menangis saat kita mengingat beliau?
Menagiskah kita saat bibir melantunkan doa untuknya?
Ingatkah kita kepada beliau saat mata terbuka dari lelap tidur?
Ingatkah kita kepada beliau saat kesuksesan menyapa kita?
Apakah kita memeluk dan mencium tangan beliau saat kesuksesan itu datang?
Ingatkah kita tangan yang kasar karena kerja keras beliau untuk membesarkan kita? Seringkah kita mencium tangan yang kasar itu?
Apakah mata ini sering di basahi oleh air mata karena mengenang kesabaran beliau saat mengandung kita?
Apakah air mata kita pernah menetes saat kita mengenang perjuangan beliau di saat melahirkan kita?.Perjuangan hidup dan mati demi rasa cintanya kepada kita? Demi menginginkan buah hatinya agar dapat melihat keinindahan dunia?
Apakah kita ingat beliau di dalam keseharian kita?

Ibu ...
Maafkan anakmu yang jarang mengingatmu. Terkadang anakmu begitu egois yg hanya mengingat saat engkau memarahi saja. Bahkan anakmu tak pernah mengucapkan terimakasih. Terima kasih kepada engkau karena telah melahirkan,mengasuh kami dsb.
Ibu …
Maafkan anakmu yang belum bisa memberi kebahagia
Ibu ... Maafkan anakmu … Maafkan ...

Sungguh jangan pernah hilangkan ingatan kita untuk ibu..

Ya Rabb ...
Sayangi ibu hamba dengan segala kebaikan menurutMU
Sayangi beliau sebagaimana sayang beliau terhadap hamba
Ya Rabb …
Dari sisa umur yang hamba miliki, izinkan hamba membahagiakan Beliau. Limpahkan kasih sayangMU kepada beliau.

Calon Suamiku ^_^

Calon suami yang kusayang ...
Kuharap kamu dalam keadaan baik-baik saja
Ada hal yg ingin kusampaikan melalui surat ini
Hal - hal yg enggan aku katakan langsung padamu
Hal-hal yg intinya hanya tentangku ... perempuan

Dari kecil perempuan ini dirawat dan dijaga ayah ibu.
Tak seorang lelaki pun dibiarkan mendekatiku sampai aku pantas utk didekati.
Dan nasehat - nasehat itu tak pernah bosan meluncur dr mulut mereka
Aku slalu ingat utk menjaga auratku
Aku slalu ingat utk menjaga hatiku
Aku slalu ingat utk tidak membiarkan lelaki berjalan berdua dgnku
Aku slalu ingat utk menjaga tanganku dr genggaman lelaki
Aku slalu ingat utk menjaga pipiku dari belaian lelaki
Aku slalu ingatutk menjaga bibirku dari kecupan lelaki
Aku slalu ingat utk menjaga seluruh tubuhku dari tipu daya lelaki
Aku slalu ingat utk menjaga KEHORMATAN PEREMPUAN

Aku slalu ingat … Kecuali saat pertemuanitu
Kelak saat engkau telah menjadi suamiku

Aku tiada akan pernah merasa kebebasanku terpasung jika kelak engkau memerintahkanku untuk berhenti bekerja.
Akua merasa bahwa perintahmu itu adalah karena engkau terlalu mencintaiku, sehingga engkau sama sekali tidak rela melihatku bekerja keras demi mencari kekayaan dunia

Aku tiada akan pernah merasa kebebasanku terpenggal jika kelak engkau memaksaku menutup auratku atau bahkan memaksaku mengenakan cadar sekalipun. Aku merasa bahwa paksaanmu itu adalah karena engkau begitu mencemburuiku, sehingga engkau tidakakan pernah ikhlas jika lelaki lain memandangi tubuhku dengan tatapan nafsu?

Aku tiada akan pernah merasa kebebasanku terbelenggu jika kelak engkau tidak memperbolehkanku mempekerjakan pembantu dalam rumah tangga kita. Aku merasa laranganmu itu adalah karena engkau sangat menyayangiku, sehingga engkau tidak ingin aku menyesal dikemudian hari karena aku tidak bisa melihat anak-anak kita tumbuh dalam asuhanku

Aku tiada akan pernah merasa kebebasanku terhalang jika kelak engkau melarangku untuk bebas keluar rumah tanpa seizinmu. Aku merasa aturanmu itu adalah karena engkau sangat merindukan dan mengkhawatirkanku,sehingga engkau akan merasa gelisah jika aku tidak berada dirumah

Aku tiada akan pernah merasa kebebasanku terinjak-injak jika kelak engkau membatasi pergaulanku. Aku merasa perlakuanmu itu adalah karena engkau terlalu mengasihiku, sehingga engkau tidak ingin melihatku terjerumus ke dalam pergaulan bebas yang akan mengantarku memasuki pintu neraka

Aku akan sangat berterima kasih jika kelak engkau membatasi kebebasanku bukan karena ego-mu, tetapi karena engkau sangat memahami kewajiban dan tanggung jawab yang telah Alloh berikan kepadamu sebagais eorang suami

Duhai calon suamiku …
Aku bukanlah robot yg tidak akan pernah merasakan letih. Kelak bantulah aku dalam mengatur rumah tangga kita, jangan kau limpahkan semua urusan rumah tangga hanya padaku tanpa mau memperdulikan dan mengerti keletihanku.

Duhai calon suamiku …
Aku bukanlah mahkluk bisu tempat engkau memuaskan nafsumu. Kelah janganlah engkau mencumbuiku dengan cara yang kasar dan dingin, cumbuilah akudengan lembut dan penuh kasih sayang

Duhai calon suamiku …
Aku bukanlah patung tak berperasaan. Kelak setialah padaku, sayangilah aku, dan hormatilah aku layaknya ratu dalam hatimu.

Duhai calon suamiku …
Sungguh yang kuharapkan hanyalah kebahagiannya dalam rumah tangga kita, yang kuinginkan adalah ridha dari dirimu, yang kudambakan hanyalah genggaman tanganmu yang akan membawaku ke surga dunia dan akhirat.
Untuk itu ajaklah aku untuk menyelammi kehidupan yang paling berbahagia. Marikita saling mengerti, memahami, dan mengasihi selayaknya dua insan yang raga dan jiwanya telah saling menyatu. Oh sungguh bahagianya aku jika memiliki suami yang akan mengajariku dengan cinta dan membimbingku dengan kasih. SubhanAlloh …

Duhai calon suamiku …
Sebelumnya aku ingin berterima kasih padamu karena kelak engkaulah yang akan membawaku memasuki surga yang tiada akan pernah terbayangkan indahnya.
Engkaulah yang akan menuntunku mencapai Ridha Illahi.
Engkaulah yang akan menjagaku dalam mengarungi lautan hidup.
Engkaulah yang akan menjadi sandaran saat ragaku letih dan bersedih.
Engkaulah yang akan membantuku untuk menjadi seorang ibu yang paling berbahagia.
Engkaulah yang akan menemaniku disaat usiaku telah senja.
Dan engkaulah yang akan menjadi tempat untuk aku mencurahkan seluruh perasaan hatiku.
Sungguh aku akan menjadi istri yg paling berbahagia jika memiliki suami yg menyayangidan mencintaiku karena Allah dan semoga itu adalah dirimu.

Calon suamiku sekian surat cinta untukmu yang kutulis penuh dengan kasih dan harapan.
Semoga Allah selalu Meridhai dan Memberkahi rumah tangga kita nanti dengan kebahagiaan yg tiada akan pernah berakhir?
Amiin...

Ttd
Wanita yang akan kau bawa ke SurgaNya